Semua yang aku lakukan terasa salah ketika itu
dihadapkan pada mereka. Aku tidak pernah dianggap lebih benar dari orang-orang
yang lebih tua di rumahku. Semuanya menilai secara subjektif. Mereka selalu
menganggap aku yang terlalu berlebihan. Hey! Aku yang merasakan bukan kalian.
Mereka selalu menjadikan dia bandingan untukku.
Dia selalu diagungkan dalam segala hal. Meskipun suatu ketika kita berbuat hal
yang sama, dia akan selalu diagungkan sementara aku akan tetap dianggap biasa. Dan
jika kita berdua melakukan kesalahan yang sama, maka aku yang akan sangat
disalahkan atas hal itu. Padahal dari cerita ataupun adat/kebiasaan yang aku
dengar yang paling kecil selalu dimanja, tapi aku tidak merasakan hal itu. Mungkin
tidak begitu denganku.
Mereka bilang aku yang harus introspeksi. Tapi kenapa
selalu aku yang introspeksi? Apa karena umurku jauh di bawah mereka? Apakah orang
yang lebih tua itu akan selalu benar sehingga mereka tidak membutuhkan
introspeksi lagi? Kesu’udzonan merekalah yang membuatku selalu tampak bersalah
dan melakukan kesalahan di mata mereka. Aku telat sedikit saja membuat hal yang
benar itu akan membuat masalah.
Kepribadianku memang buruk. Aku tahu aku
terlalu banyak melakukan kesalahan, tapi belum tentu semua kesalahan itu
sepenuhnya berasal dariku. Tak akan ada asap
bila tak ada api. Bukalah hati kalian, tidak semua yang kalian pandang salah
itu adalah benar salah.
Jika aku bisa memilih takdirku mungkin aku akan
memilih agar tak pernah terlahir ke dunia ini. Aku merasa hidupku benar-benar
tak berguna untuk siapapun bahkan untuk diriku sendiri. Sekarang aku
benar-benar merasa ingin pergi saja.

